摘要:Seagrass known as Lamun in Bahasa is one of the species that are can live in submerged marine habitats. Seagrasses have an important role in the ecosystems, including as primary producers, living habitats of benthic organisms, stabilize bed sediments and carbon storage in shallow-water coastal. Monospecies community of seagrass was found in Malang, however, only limited number studies of seagrass have been done in the area. This study aimed to determine the growth rate and biomass of the seagrass, as well as the phytochemical compounds. Experiments were conducted during August-November in 2014 and 2015. Measurement of in situ growth and biomass leaf were made using marking techniques in one week also the data of leaf seagrass collected were using a random sampling method. Extracted materials were tested by methanol to get the phytochemical compound. Data were analyzed at the Fisheries and Marine Exploration Laboratory, FPIK-UB. The results of the present study showed that two species of seagrass, Syringodium isoetifolium at Kondang Merak and Thalassia hemprichii at Bale Kambang. The growth rate of the seagrass leaves of the former species had positive values with 0.45±0.19 cm/day, hile the later species had 0.25±0.14 cm/day. Furthermore, the biomass value of the two types seagrass obtained that in the below-ground was higher than the above-ground. Phytochemical tests showed that both of type seagrass contained bioactive compounds such as flavonoids and saponins.
其他摘要:Seagrass, yang umum disebut sebagai lamun dalam bahasa indonesia merupakan satu satunya tumbuhan tingkat tinggi yang dapat hidup terendam air laut. Padang lamun memiliki peran kunci dalam ekosistem, antara lain sebagai produsen primer, habitat hidup organisme bentik, menstabilkan sedimen, dan menyimpan karbon di laut dangkal. Komunitas lamun monospesies dapat ditemukan di Kabupaten Malang, namun penelitian terkait lamun di Kabupaten Malang juga masih terbatas, sehingga kajian ini dirasa penting untuk dilakukan. Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui laju pertumbuhan daun dan biomassa lamun, serta mengetahui kandungan fitokimianya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga November Tahun 2014 dan Tahun 2015. Pengukuran laju pertumbuhan daun dan biomassa lamun dilakukan secara in situ dengan metode penandaan selama satu minggu, serta pengambilan contoh daun lamun dilakukan secara acak di lokasi penelitian. Tahap selanjutnya bahan diekstraksi dengan methanol untuk mendapatkan kandungan senyawa fitokimia. Analisis data di Laboratorium Eksplorasi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan, FPIK–UB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis lamun, yaitu Syringodium isoetifolium di Pantai Kondang Merak dan Thalassia hemprichii di Pantai Bale Kambang. Laju pertumbuhan daun kedua jenis lamun secara berurutan menunjukkan nilai positif yaitu 0,45±0,19 cm/hari dan 0,25±0,14 cm/hari. Nilai biomassa kedua jenis lamun menunjukkan bahwa biomassa pada bagian bawah substrat lebih tinggi dibandingkan bagian atas substrat. Uji fitokimia menunjukkan bahwa kedua jenis lamun ini mengandung senyawa bioaktif jenis flavonoid dan saponin.